Solusi Toxic Relationship Tidak Harus Menyudahi Hubungan

Solusi Toxic Relationship Tidak Harus Menyudahi Hubungan

Saat Anda merajut hubungan romantis atau platonis, pasti Anda memikir itu akan bawa Anda kebahagiaan serta mencari Solusi Toxic Relationship.

Sedikit orang yang merajut hubungan dengan memikir jika itu akan membuat mereka tidak berbahagia, kan?

Solusi Toxic Relationship Tidak Harus Selalu Menyudahi Hubungan

Sayang, ada beberapa hubungan di bumi ini yang paling kurang sehat. Bahkan juga, Anda dapat mengatakan betul-betul toxic.

Pikir kata ” toxic”. Maknanya toxic. Itu bermakna bikin rugi kesehatan Anda. Beresiko. Mempunyai potensi mematikan.

Baca Juga: Resah dengan Lingkunganmu yang Toxic?

Umumnya kita memakai kata itu untuk memvisualisasikan beberapa hal kecuali orang yang mempunyai potensi membunuh kita – toksin tikus, beberapa obat keras, kebanyakan alkohol atau merokok, makan kurang sehat, karbon monoksida, dan lain-lain. Anda pahami tujuannya.

Tetapi, orang dan hubungan dapat sama berbahayanya untuk kesejahteraan Anda seperti beberapa zat yang disebut sebelumnya. Permasalahannya ialah tidak gampang untuk mengenali toksisitas saat tersangkut seorang.

Jadi, silahkan kita awali dengan bicara mengenai bagaimana mengenal pertanda hubungan relationship yang toxic dan mencari solusi.

11 Tanda Hubungan toxic

Sebagian orang tumbuh dalam keluarga toxic. Kemungkinan ada pelecehan verbal, emosional, dan / atau fisik. Baik itu di antara orangtua atau di antara orangtua dan beberapa anak, itu masih adalah lingkungan yang kurang sehat dan toxic untuk tumbuh.

Bila seorang berawal dari keluarga semacam ini, kemungkinan mereka bahkan juga tidak mengenal bila dan kapan mereka ada dalam mencari solusi relationship toxic.

Berikut sejumlah tanda hubungan yang toxic:

  1. Yang Satu Memberikan, Yang Lain Ambil

Hubungan sepihak tak pernah sehat. Sering, Anda akan mempunyai dinamika narsisis / kesenangan orang dalam hubungan yang toxic (terlebih bila itu romantis).

Seseorang memberikan dan memberikan dan memberikan, mengharap membuat orang narsis berbahagia, tapi itu tak pernah sukses. Mereka cuman ambil dan ambil dan ambil, dan hubungan jadi begitu miring dan kurang sehat.

  1. Gaslighting

Gaslighting ialah karakter umum lain dari hubungan toxic. Bila Anda tidak terlatih dengan istilah itu, itu ialah saat seorang merekayasa seseorang di titik di mana orang itu menanyakan kewarasannya.

Misalkan, kemungkinan akhir kali Anda menyaksikan pasangan, Anda berdua sepakat untuk ke kebun binatang di hari Minggu. Tetapi, saat Anda mengulasnya kelak untuk memverifikasi gagasan Anda, orang itu berbicara, “Saya tak pernah menjelaskan saya pengin ke kebun binatang. Saya bahkan juga tidak senang kebun binatang. “. Bila ini jadi rutinitas pada suatu hubungan, itu dapat beralih menjadi toksin.

  1. Minimnya Tanggung Jawab Individu

Bila satu atau ke-2 orang terus-terusan mempersalahkan seseorang atas apa saja dan segala hal, itu tentu penanda hubungan yang toxic.

Seperti kata peribahasa, “Diperlukan 2 orang untuk menari tango.” Ke-2 orang itu bertanggungjawab atas sikap mereka sendiri, dan yang lain tidak bisa “memaksakan” Anda lakukan apa saja. Karena itu, berperanan sebagai korban dari sikap seseorang tidak produktif, dan cuman ke arah pada hubungan yang kurang sehat.

  1. Minimnya Keyakinan

Dalam hubungan yang toxic, tidak bakal ada banyak keyakinan. Bisa saja tidak ada yang memercayai lainnya, atau bisa saja sepihak. Bagaimana juga, minimnya keyakinan melakukan tindakan seperti toksin dalam hubungan.

Keyakinan harus jadi dasar untuk membuat hubungan apa saja. Tanpa dia, itu ibarat coba membuat rumah di atas pasir apung. Itu tidak pernah sukses!

  1. Hati Berjalan di atas Kulit Telur

Kemungkinan rasanya Anda tidak tahu apa seseorang akan meledak. Kemungkinan ada kemarahan yang mengamuk, dan karenanya, Anda berasa harus membekap orang itu supaya ia tidak geram.

  1. Tidak hormat

Sikap tidak hormat tiba dalam bermacam-macam. Dapat secara verbal, seperti, “Kamu bodoh! Anda idiot! Anda tidak pernah bermakna apa saja dalam kehidupan! ” Atau, bisa saja emosional: “Saya tak pernah menyukaimu! Tidak ada yang menyukaimu! Kamu tidak dapat disayangi! ” Atau, juga bisa secara fisik.

Setiap tangan ditempatkan di atas seseorang dalam amarah, atau kalimat tidak cinta disampaikan, itu tidak santun dan selanjutnya tidak bisa diterima dalam hubungan yang sehat.

  1. Minimnya Komunikasi yang Efisien

Tidak ada orang yang mengetahui bagaimana berbicara secara efisien. Ini tiba dalam bermacam-macam. Ini menjadi penarikan keseluruhan, yang menyebabkan minimnya komunikasi. Atau, juga bisa berbentuk pekikan, pekikan, dan menyebutkan nama (yang secara tehnis ialah komunikasi, tetapi benar-benar tidak efisien).

  1. Penghindaran

Sering, kita cuman memandang hubungan toxic sebagai argumentatif, kasar, atau intensif pada beberapa tingkat yang lain. Tetapi, mereka bisa juga jadi statis dan menghindari. Bila salah satunya atau ke-2 orang menarik diri dari hubungan dan tidak tersambung sama orang lain, itu bisa juga beralih menjadi toksin – terlebih bila itu berjalan dalam periode panjang.

  1. Sikap Pengaturan

Kemungkinan seseorang tidak mau lainnya pergi keluar dengan beberapa temannya, menyaksikan keluarga mereka, atau lakukan hal-hal lain tanpa kedatangan mereka. Kemungkinan mereka perlu mencari tiap pergerakan mereka di program hingga mereka mengetahui di mana mereka ada. Mereka bahkan juga bisa mengatur apa yang mereka gunakan atau apa yang mereka makan. Semua tipe sikap pengontrol semacam ini ialah elemen khusus dalam hubungan yang toxic.

  1. Kritikan Terus-terusan

Satu atau ke-2 orang itu terus-terusan mengomentari segala hal mengenai seseorang. Bisa saja performa, kepandaian, motivasi, pekerjaan, berat tubuh, pengajaran – sebutlah saja. Bila kritikan berkeliaran sejauh waktu, Anda ketahui jika Anda ada dalam hubungan yang toxic.

  1. Rendah Diri dan Harga Diri

Semua karakter hubungan toxic yang disebut sebelumnya tentu ke arah di harga diri dan harga diri yang rendah. Saat Anda terus-terusan dinilai, dikontrol, tidak dipandang, dituding, dan disedot habis oleh usaha Anda, karena itu siapa saja selanjutnya akan berasa jelek mengenai diri sendiri. Hubungan harus membuat Anda berasa nyaman dengan diri kita, bukan jelek.

Dapatkah Hubungan toxic Jadi Sehat?

Beberapa orang dalam hubungan yang toxic pengin membuat lebih bagus. Argumen umum untuk ini ialah sebab mereka akui menyukai seseorang. Tetapi pikirkanlah itu. Kenapa Anda menyukai orang yang lain demikian menghancurkan Anda dan hubungan Anda?

Cinta harus berasa baik, bukan jelek. Karena itu, walau kemungkinan untuk mengganti hubungan yang toxic jadi sehat, tidak gampang, dan sayang, itu pun tidak umum. Tetapi, bukan bermakna tidak dapat dilaksanakan.

Bagaimana Solusi Dari Relationship Toxic

Membenahi hubungan yang toxic itu benar-benar susah, tapi berikut banyak hal yang bisa Anda kerjakan untuk mengawali jalan itu.

  1. Memutuskan Contact untuk Sesaat

Kadang yang terhebat ialah keluar dari hubungan sesaat dan istirahat. Peroleh beberapa sudut pandang dan pikir sesaat saat sebelum Anda coba melakukan perbaikan.

  1. Analisis Permasalahan

Anda tidak bisa mengganti apa yang tidak Anda ketahui. Karena itu, bila Anda tidak paham apa permasalahannya, karena itu Anda tidak bisa melakukan perbaikan. Sempatkan diri untuk bicara sama orang penting Anda mengenai permasalahan yang ditemui hubungan itu. Bila mereka tidak mau berperan serta, coba tulis apa yang Anda saksikan sebagai permasalahan dan bagi saat mereka siap.

  1. Tersangkut dalam Refleksi Diri

Ke-2 orang itu harus cukup dewasa untuk menyaksikan jauh ke diri sendiri dan menyaksikan perombakan positif apakah yang perlu mereka kerjakan. Tanpa kemauan atau motivasi untuk berbeda, hubungan tidak lebih baik.

  1. Mencari Kontribusi Profesional

Sering, orang tidak bisa lakukan pekerjaan batin dan refleksi diri kita. Karena itu, memperoleh kontribusi profesional dari terapi bisa menolong tiap pribadi menangani permasalahan mereka sekalian menolong tingkatkan hubungan lewat therapy pasangan.

  1. Stop Mempersalahkan

Dalam hubungan toxic, orang selalu mempersalahkan seseorang, tetapi itu cuman akan meneruskan transisi toxic. Lewat kerja batin dan therapy, Anda perlu ambil tanggung jawab individu atas perlakuan Anda. Satu kali lagi, ke-2 orang itu perlu lakukan ini.

  1. Pakai “I-Language”

“I-Language” ialah bahasa tanggung jawab. Ini menerangkan ke seseorang bagaimana hati Anda tanpa mempersalahkan mereka. Ini menolong kurangi sikap protektif dalam hubungan. Dibanding mengawali kalimat dengan “Kamu selalu…” coba awali dengan suatu hal seperti “Saya kecewa saat kamu…”.

  1. Ganti Sikap Anda

Sesudah Anda berdua mengenali apa yang penting Anda ganti pada diri Anda dan dalam hubungan, Anda perlu lakukan perombakan. Tanpa perombakan, Anda langsung akan kembali pada tempat Anda awalnya. Anda bahkan juga bisa memakai arah tercatat yang detil dan mengecek sekali satu minggu untuk menyaksikan berapa baik Anda lakukan perombakan yang Anda targetkan sebagai pasangan.

  1. Jaga Perombakan di Periode Depan

Beberapa orang yang pintar berbeda dalam sekejap, tapi sesudah sesaat, mereka akan kembali pada rutinitas lama mereka. Untuk betul-betul mengganti hubungan dan membuat sehat, perombakan itu harus tetap.

Hubungan yang toxic membuat penekanan emosional, yang pada gilirannya mempengaruhi semua sisi hidup Anda – terhitung badan fisik Anda. Tidak seorang juga bisa alami hubungan semacam ini.

Bila Anda merasakan diri Anda dalam hubungan yang kurang sehat, Anda mempunyai tiga opsi:

  1. Tetap didalamnya dan tahan dengan lingkungan toxic. (TIDAK DIREKOMENDASIKAN)
  2. Keluarlah dari hubungan dan jangan sampai terkait kembali dengannya. (Ini kemungkinan salah satu opsi untuk banyak orang.)
  3. Ambil beberapa langkah untuk mengembalikan hubungan dan menggantinya dari toxic jadi sehat.

Pilihan ke-3 bukan mustahil, tapi memang memerlukan banyak pekerjaan. Dalam periode panjang, mudah-mudahan Anda berdua bisa menjadi manusia yang lebih bagus serta lebih berbahagia.